Filed under: My Life Learning
Pukul 23.07 WIB, sesaat sebelum melepas lelah setelah seharian di perjalanan Pontianak-Singkawang-Pemangkat PP, akhirnya aku isi kembali blog ku yang sdh beberapa bulan tidak terurus (krn bingung mau nulis apaan, hehe)..
12 jam perjalanan hari ini cukup melelahkan. walaupun tidak selelah 18 jam perjalanan Palangka Raya – Banjarmasin – Balikpapan pada Desember 2011 lalu.. Namun keduanya memberi kesan yang sama. Kesan yang akan kutulis ini..
Bunyi roda mobil terdengar seolah menggerus aspal jalanan.. menatap kedepan, terlihat garis jalan raya yang lurus dan sepi, seolah membelah rawa dan semak-semak di kanan kiri bumi Kalimantan.. di sepanjang jalan berjajar rumah-rumah panggung yang dibawahnya menggenang air rawa.. Di tengah perjalanan terdapat deretan pura, yang orang sebut dengan daerah kampung Bali.. Sambil istirahat, kami turun sebentar untuk membeli beberapa ikat rambutan (ternyata yg jual orang dayak).. setelah beberapa jam, perjalanan kami yang panas di siang itu akhirnya mengantarkan kami ke kota Palangka Raya. Kota yang luas, rapi, dan sepi. Suasananya sangat tenang dan damai.. Itulah sebait gambaran perjalananku ke kota Palangka Raya beberapa bulan lalu..
Perjalanan yang mirip akhirnya aku alami siang tadi.. Pontianak-Singkawang.. Sepanjang 140 km perjalanan, mobil kami melalui banyak Klenteng (tempat ibadah orang etnis Tiong Hoa). Pemandangan di sebelah kanan-kiri adalah pepohonan kelapa, hutan nipah, semak, rumah panggung, anak sungai kapuas, dan laut secara bergantian.. Dalam perjalanan itu, aku beberapa kali melamun dan mengamati aktivitas para penduduk di sana.. gerombolan anak baru pulang dari sekolah dg mengayuh sepedanya.. ada yang berboncengan.. ada yang sekedar berjalan kaki menempuh jalanan yang panas.. namun wajah mereka sangat senang rasanya.. ada juga sebuah keluarga sedang berkumpul di sebuah teras depan rumah mereka.. rumah panggung yang terbuat dari kayu.. di bawahnya menggenang air rawa dari anak sungai yang menghitam.. Ada juga yang sibuk mengurus toko kecilnya yang menjual barang-barang seadanya.. ada lagi sekumpulan anak yang mandi di sungai anak kapuas..
Ada yang aneh.. setelah lama melamun, akhirnya aku tau apa yang aneh.. Aku merasa aneh, kenapa orang-orang dengan kondisi kehidupan yang begitu kekurangan itu masih terlihat bahagia.. Mungkin mereka sudah pasrah dengan apa yang mereka punya dan tidak ada ambisi lagi sehingga mereka bisa meninkmati apa yang sudah ada.. Aku membayangkan seandainya aku hidup di dalam lingkungan mereka, jauh dari akses kota, minim hiburan, cari air bersih susah, cari bensin jauh, makan apa adanya, sekolah jauh, halaman dikelilingi rawa dan semak..
Pertanyaanku itu mengingatkanku ketika beberapa tahun dulu, di tengah kondisi ekonomi yang kritis, sering makan seadanya.. sepotong tempe, sayuran, dan sambal.. Rp 500 ikan asin untuk sarapan sebelum sekolah.. atau 2 buah Mi Yoki (Mi terkenal saat itu yg harganya Rp 400/bks) yang dimasak sebagai lauk untuk kami bertiga buka puasa.. Saat itu rasanya jauh lebih enak dibanding 10 tusuk sate atau ayam goreng KFC saat ini..
Akhirnya aku sadar bahwa kenikmatan dan kebahagiaan itu tidak tergantung pada hasil.. tapi pada proses.. tidak tergantung pada apa yang kita punya sekarang.. tetapi pada perjuangan untuk mendapatkannya.. Ternyata itu juga menjadi salah satu bukti bahwa Tuhan maha adil.. Tuhan membagi kebahagiaan itu kepada semua mahluk-Nya sama rata.. bukan pada tumpukan harta, tingginya tahta, dan cantiknya wanita.. Tetapi kebahagiaan terdapat pada kegigihan dalam menjalani hidup dan keikhlasan kita dalam menerima semua yang ada di dalamnya..
Pontianak, 28 Maret 2012
Filed under: Uncategorized
Akhirnya tulisan ini aku post jg, hehe.. setelah sebulan sibuk persiapan ke Balikpapan.. akhirnya aku merasakan suasana yg lebih tenang, jauh dari hiruk pikuk manusia di jkt yg seakan2 hidup hanya untuk uang..
Meskipun pendiam, aku suka mengamati gaya dan karakteristik orang yg kukenal.. hingga selama sekolah, kuliah, dan kerja, aku dapat menyimpulkan bahwa jenis kecerdasan orang berbeda-beda.. setidaknya terdapat 3 jenis kecerdasan..
1. Kecerdasan pertama, aku sebut sebagai kecerdasan operasional..
orang yang cerdas secara operasional sangat mahir dlm melakukan suatu prosedur kerja.. termasuk jg orang yang cepat dalam menyelesaikan perhitungan matematis.. mampu menyelesaikan pekerjaan rutin secara sempurna.. Jika dianalogika sebagai pembuat rokok, maka kecerdasan operasional adalah kemampuan orang dalam meracik tembakau dan menggabungkannya dengan kertas dan bahan lainnya sehingga menjadi sebatang rokok yang utuh..
2. Kecerdasan kreatif
adalah kemampuan orang dalam menemukan solusi dan melakukan metode kerja di luar rutinitas yang dilakukan.. Orang yang kecerdasan kreatifnya tinggi mampu berpikir out of the box untuk memikirkan suatu inovasi yang selama ini belum pernah terpikirkan.. Dalam analogi pembuat rokok tadi, maka orang yang memiliki kecerdasan jenis ini mampu menemukan metode pembuatan rokok baru, bahan baku baru, kemasan baru, atau menambahkan daun ganja untuk menghipnotis penghirupnya.. Suatu pekerjaan yang tidak dapat dilakukan oleh orang dengan kecerdasan pertama..
3. Kecerdasan tertinggi, adalah kecerdasan esensial
suatu kecerdasan dimana seseorang mampu memilih value atas pekerjaan yang ia lakukan.. mampu menggabungkan logika dan nurani untuk melihat sesuatu yang dirasa benar dan salah.. Kecerdasan level ini mungkin akan membuat sang pembuat rokok berpikir ulang atas apa yang ia kerjakan.. hingga ia memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai pembuat rokok.. karena ia berpikir bahwa meskipun skill operasional dan kreatifitasnya dalam membuat rokok tinggi, namun apa yang telah dibuatnya sesungguhnya banyak merugikan orang lain, baik si perokok aktif maupun pasif.. Ia berani melihat, memilah, merenungkan, dan memilih value atas setiap yg ia kerjakan.. ia memilih melakukan sesuatu bukan karena paksaan, ikut2an, aturan, gengsi, tradisi, atau mengharap simpati.. namun ia melakukan sesuatu lebih karena kejernihan berpikir dan kepekaan terhadap apa yang dirasa benar dan salah.. berani menjalani hidup yang dianggap benar walaupun beresiko dibanding memilih aman di jalan yang sebenarnya ia anggap tidak sejalan dengan nuraninya..
Ketiga jenis kecerdasan tersebut penting.. orang yang hanya cerdas secara operasional hanya akan menjadi pengikut, pekerja pasif, dan robot yang pragmatis.. sedangkan orang yang hanya memiliki kecerdasan kreatif hanya akan menjadi seorang bos yang hanya bisa menyuruh dan memberikan solusi tanpa mengerti teknis dan implementasinya serta hanya bisa berpikir ideal teoritis, bukan praktis dan realistis.. Namun, orang yang hanya memiliki kecerdasan esensial juga hanya bisa bermimpi besar dan indah, berpikir idealis, tanpa bisa menerjemahkan kedalam realita..
Dalam prakteknya, meningkatkan ketiga kecerdasan tersebut tidaklah mudah.. tapi semuanya perlu dipertajam sedikit demi sedikit..
Ada saatnya kita bekerja rajin, belajar dg serius, dan menyelesaikan setiap rutinitas dg baik.. tapi ada saat pula kita membuat terobosan dan kreatifitas baru dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan dan tidak terjebak dalam metode lama.. Namun yang tidak kalah penting, ada saatnya kita harus istirahat dari rutinitas dan merenung sejenak atas apa yang telah kita jalani sepanjang hidup.. mengambil pelajaran, merasakan, memilih, mempertegas, dan meluruskan value dan esensi atas semua yang kita lakukan..
Anas, Balikpapan 12/08/2011
Filed under: Uncategorized
Maaf, posting 3 level kecerdasan saya pending dulu, hehe.. ada postingan yang lebih sesuai untuk momen saat ini (hari wisuda juli)..
Melihat beberapa foto2 kuliah yang terselip di dalam laptop, aku teringat sesuatu yang mungkin akan menjadi kenang2an semasa kuliah, yaitu Himazkin (himpunan mahasiswa mizkin ITB) hehe.. Sengaja aku menulisnya disini dan berharap kelak aku dapat mengingatnya lagi..
aku tidak ingat persis kapan Himazkin mulai eksis. Tapi berdirinya himazkin bukan berarti memisahkan dan mendiskriminasi si kaya dan si miskin.. tapi himazkin ada lebih karena keinginan untuk menyatukan semangat kesederhanaan dalam kemewahan.. Pada awalnya himazkin bertujuan mengapresiasi jerih payah para mahasiswa ITB yang kuliah dalam keterbatasan dan kemiskinan, hahaha.. mahasiswa sepertiku dan bulah yang selalu mencari makan gratisan dan Rp 0,-.. rohim yang selalu jualan donat, dardiri yang selalu makan cimplung, soleh yang selalu numpang nginep di sekretariat salman, dll.. dan mahasiswa lain yang bangga akan kemiskinannya, hahaha..
seiring berjalannya waktu, himazkin mulai berkembang tidak hanya di kalangan orang mizkin.. beberapa mahasiswa akhirnya bergabung dg himazkin.. semangat kemiskinan pun akhirnya berubah menjadi lebih universal, yaitu semangat kesederhanaan, kesewajaran, kegigihan, kejujuran, keikhlasan, dan kerendahan hati dalam menjalani kehidupan sehari-hari..
Tak terasa hari ini adalah hari wisuda juli 2011.. semakin lama semakin banyak mahasiswa yg lulus.. semoga adanya himazkin dapat memberikan sekilat memori selama masa kuliah.. dan semoga nilai kesederhanaan himazkin selalu hidup dan melekat di masa yang akan datang.. Amin
Anas/16072011
Filed under: Uncategorized
Mungkin judul itu yang paling pas untuk tulisanku ini. Aku sangat tertarik pada bisnis. Sering aku berpikir bahwa model bisnis sudah mengalami banyak perkembangan. 80% pekembangan model bisnis dipicu oleh perkembangan teknologi, sedangkan sisanya dari kebutuhan pasar. Mulai dari bisnis paling sederhana seperti jual bala-bala, gethuk, & cilok berkembang menjadi bisnis jasa, saham, dll. Produk yang awalnya dijual langsung sekarang bisa lewat internet.. begitu juga dengan saham & forex, saat ini sudah bisa diperdagangkan secara realtime dg modal Rp 10 ribu. Di dunia periklanan, bisnis beralih dari media cetak ke media internet & elektronik, hingga dikenal adanya affiliate marketing dan google adsense.. Ada juga bisnis penjualan voucher diskon beberapa perusahaan serta bisnis MLM. Baru2 ini aku baru tau skema bisnis ilegal HYIP menggunakan skema ponzi.. atau model bisnis investasi emas dengan sumber dana pinjaman dimana pelaku bisnis peminjam uang berkali2 dan menginvestasikannya ke dalam emas dengan harapan meraih profit dari selisih kenaikan harga emas dan bunga hutang.. Ada lagi model bisnis dengan cara meminjam uang ke bank dan menggunakannya untuk membeli gedung yang disewa bank tersebut.. mainan yang awalnya cuma neker (kelereng), kasti, cap2an, kempyeng, bekel, dll sekarang sudah menjadi ragnarok, pes, dota, kidzania, dll.. begitulah bisnis berubah dan mengalir mengikuti arus waktu.. tiap bisnis punya karakteristik berbeda..
- Bisnis makanan: bisnis ini sempat aku rasakan saat membantu orang tua membuka warung ayam bakar di jember, hehe.. bisnis seperti ini butuh konsistensi produksi dan manajemen operasional yang ketat. tidak sampai 6 bulan tutup, bangkrut, dan langsung miskin, ckckck..
- Bisnis retail: aku sempat mengenali bisnis ini saat di Tokema.. key success factor dalam bisnis ini adalah supplier dan sirkulasi produk.. Ketika aliran barang bisa dikontrol, segalanya menjadi lebih mudah.
- Bisnis jasa konsultan: selama beberapa bulan aku merasakan di konsultan statistik Sigma dan LAPI ITB. Bisnis ini butuh kesabaran serta kontrol dan standarisasi kualitas SDM.
- Bisnis forex & saham: aku pernah mencoba selama 1 bulan, tapi nggak mau melanjutkan lagi.. karena bisnis ini membuat stress dan tidak tidur semalaman..hehe. apalagi kalo bermain di short time. bisnis ini butuh keseimbangan mental dan keakuratan analisis.
- Bisnis internet marketing: aku pernah mencoba google adsense lewat blog, tp profitnya masih sedikit.. setelah itu udh nggak pernah terurus lagi blognya, hehe..
- Bisnis chemical product: bisnis yg technology based. aku pernah membuat bisnis plan fotokatalis dg si Bagus & eksperimen kecil2an. tapi nggak lanjut lagi.. ternyata proses produksinya susah, hahaha
Selain bisnis2 di atas, kadang aku suka mengkhayal bisnis masa depan seperti:
- bisnis wisata luar angkasa
- bisnis jual beli mimpi
- bisnis anak (pake kiloan)
- bisnis wisata mesin waktu
- bisnis obat yg setara dengan tidur 8 jam, dll
Apapun bisnisnya, yg penting serius mengelolanya.. walaupun hingga sekarang aku belum pernah serius, hehe..
next post, aku akan menulis tentang 3 level kecerdasan.. sesuatu yg baru aku temukan beberapa minggu terakhir ini.. Skrg mau tidur dulu, besok ada evaluasi training..hehe
Anas/1407011
Filed under: Lain-Lain
lebih dari 1 bulan aku menjalani OJT di bagian Pricing Marketing, dan aku diberi tugas untuk menciptakan suatu inovasi selama masa training. Sejak awal aku sering merasakan sesuatu yang aneh di bagian marketing ini. Secara organisasi, kami telah ideal. Namun secara proses, masih jauh dari ideal. Masih belum jelas alur kerja marketing seperti yang pernah tercatat dalam sejarah dan teori yang begitu ideal.
Setiap hari aku selalu memikirkan kerangka kerja dan analisis yang tepat untuk diterapkan di tempat kerjaku. Banyak teori dan model yang aku cari dan pelajari, mulai dari servqual, model2 matriks, metode simulasi, marketing mix, dll. Namun, semakin banyak teori yang aku baca, semakin tidak jelas kemana arah analisis dan tujuanku. Tetapi, dari situ aku dapat memahami kerangka berpikir masing-masing metode dan model. Masing-masing memiliki sudut analisis yang berbeda , namun tetap logis.
Akhirnya dalam kebingungan, aku tersadar bahwa ternyata secara logika, masing-masing metode tidak ada yang salah. Karena setiap teori merupakan buah pengalaman seorang ilmuwan yang diabadikan dalam bahasa ilmu pengetahuan. Setiap teori akan bermanfaat bila diterapkan secara benar sesuai dengan karakteristik kondisi yang dihadapi. Apabila didalami lagi, setiap teori ternyata memiliki satu benang merah yang sama, memiliki logic vision yang sama.
Pikiranku semakin meluas. Apa yang aku pikirkan tentang teori marketing ternyata juga banyak ditemui di kehidupan sehari-hari. Kita kadang sering terjebak pada perbedaan paham dan pendapat. Setiap pihak merasa paling benar. Perseteruan dan egoisme semakin memperkeruh hati nurani dan pikiran, tanpa sadar akan nilai dan tujuan dasar masing-masing. Terus berputar-putar di permukaan kulit, sehingga terlupa dan tidak akan pernah merasakan manisnya buah.
Bebicara masalah training, beberapa minggu lalu aku ikut rafting bersama pegawai kantor. Malamnya sebelumnya pak manajer mengajak kami sharing bersama mengenai kinerja di bagian kami. Mengenai pembagian kerja, mitra, database, dll. Suasana pada malam itu tak sengaja membawa ingatanku saat mengajak rapat para karyawan Tokema dulu. Sharing dengan karyawan mengenai sistem bagi hasil souvenir, database supplier Tokema, pembagian kerja, dll. Apa yang aku alami dulu, ternyata sangat mirip dengan apa yang aku alami disini. Malam itu aku jadi kangen dengan suasana Tokema dulu, hahaha..
Filed under: Lain-Lain
Pukul 00.12. Sudah hampir 1 jam aku berusaha tidur, namun belum juga berhasil. Padahal dulu waktu masih kuliah, setiap kali belajar UTS di malam hari pasti langsung ketiduran, hehe..
Barusan aku berpikir dan melamun tentang suatu hal terkait perekonomian. Karena cukup menarik, akhirnya aku memutuskan untuk menyalakan kembali lampu kamar dan membuka laptopku dengan ditemani alunan lagu favorit.
Jadi begini, sering aku tertarik untuk memahami logika dan alur dalam sistem perekonomian, terutama sejak mengerjakan Tugas Akhir di kuliah dulu.. Coba bayangkan aliran uang berikut. Seorang petani membeli sabun ke toko. Pemilik toko kemudian membelanjakan uangnya untuk beli laptop. Penjual laptop lalu membeli motor. Penjual motor membeli susu. Penjual susu membeli makan ke warung. Pemilik warung membeli beras ke pasar. Pedagang beras lalu membeli beras ke petani. lho, kok balik ke petani lagi ya, hahaha. Jadi uang itu muter2 ga jelas dong.. Dari situ aku memahami bahwa ternyata meskipun ada uang, tapi konsep aliran barang sebenarnya masih sama dengan sistem barter pada zaman dulu. Jadi sebenarnya, pedagang2 di atas saling melakukan barter secara tidak langsung dengan perantara uang.. Aku bukan orang ekonomi yang ngerti betul bahasa moneter, fiskal, suku bunga, bla3.. tapi cukup dengan logika sederhana saja, hehe..
Sekarang perhatikan data berikut. PDB indonesia tahun 2010 mencapai $700 miliar atau kira-kira Rp 6300 triliun. Artinya, total produksi seluruh komoditas di indonesia selama 2010 mencapai Rp 6300 triliun. Sedangkan total penduduk indonesia = 250 juta. Kalo satu keluarga rata-rata terdiri dari 5 orang (ibu, bpk, dan 3 anak), maka di indonesia ada 50 juta keluarga. Berarti, PDB per keluarga selama setahun = 6300T/50jt = 120 jutaan per tahun = Rp 10 juta per bulan. Artinya, seharusnya rata-rata penghasilan setiap keluarga indonesia 10 juta per bulan, flat ! Wah kalo setiap penduduk indonesia berpenghasilan sebanyak itu mungkin setiap orang bisa merasakan jd orang kaya, apalagi yg hidup di jember.
Namun kenapa masih banyak penduduk yang miskin? Menurutku ada beberapa sebab :
1. Karena terdapat perusahaan asing, maka tidak semua PDB dinikmati oleh penduduk indonesia. Sebagian lari ke luar negeri. Sebagian lagi juga digunakan investasi dan diekspor, sehingga yang digunakan untuk konsumsi dalam negeri hanya sekian persen saja.
2. Distribusi pendapatan tidak merata. 80% dari total penghasilan penduduk se-indonesia tsb masuk ke dompet 20% penduduk indonesia.
Lalu aku bertanya, kenapa pendapatan penduduk bisa tidak merata?? menurutku ada beberapa penyebab lagi:
1. Ada kesenjangan penghasilan. Sedangkan sebagian besar penduduk indonesia bekerja di sektor non-formal, sehingga produk yang dijual juga ala kadarnya, macem nasi pecel, tiwul, tahu isi, bala-bala, gethuk, cilok, jemblem, cireng, dkk. Otomatis nilai tambah dan penghasilan yang didapat juga ala kadarnya. kalo di negara maju, makanan itu harganya jauh lebih mahal, sedangkan barang elektronik justru relatif murah (katanya). Akibatnya, penghasilan yang masuk ke orang kaya akan terdistribusi ke pedagang makanan dan petani secara maksimal.
2. Adanya sistem kapitalisme. Siapa yang punya banyak duit, dialah yang menang. Ya jelas, orang yang punya banyak modal pasti produknya lebih maju, bisa jualan cilok elektrik, bala-bala wireless, atau gethuk dg nanoteknologi. Budaya koperasi sudah dipandang kuno, padahal itulah yg paling adil dan menyejahterakan, karena adanya sistem bagi hasil.
Lalu bagaimana solusinya, lagi-lagi menurutku ada beberapa hal. intinya adalah bagaimana supaya penghasilan yang dinikmati oleh orang berpenghasilan tinggi bisa terdistribusi ke seluruh penduduk:
1. BUMN kita harus berani ekspansi ke luar negeri. masa BUMN negara lain terus yang menjajah kita? maksudnya supaya kita bisa menyerap PDB dari negara lain.
2. Usaha kecil dan menengah jangan dibiarkan ‘kleleran’ begitu saja, tapi harus diopeni dan diintegrasikan supaya produknya lebih variatif dan bernilai tambah. misalnya bikin tiwul + gethuk + pecel + kuah cilok, pasti mak nyus & mahal harganya, hehe.. Orang indonesia jangan jualan bala-bala melulu, kalo perlu bala-bala kita impor aja.. bikin produk yang bisa dibeli oleh kalangan menengah ke atas, supaya penghasilan yang mereka terima dapat terdistribusi secara merata ke seluruh lapisan masyarakat. Kalo jualan bala-bala terus kan sama aja yg beli juga orang miskin juga, sehingga uangnya hanya muter2 di orang2 miskin aja. Supaya bisa tumbuh, usaha kecil & menengah harus ditarik oleh industri besar. Selain it orang indonesia harus berani membeli barang buatan dalam negeri.
3. Yah, kalo semua cara ga ada yang bisa, mending tiap bulan orang yang berpenghasilan di atas rata-rata sumbangin duit deh buat bantu yang ga mampu sampai seluruh orang penghasilannya sama. Artinya, sampai distribusi penghasilan penduduk adalah homogen dengan standar deviasi=0. gampang kan, hehe..
udah dulu ah, mau tidur lagi..
Anas 24/05/2011
Filed under: My Life Learning
Entah mengapa, semakin lama aku semakin jarang menulis di blog ini. Bukan karena tidak ada bahan tulisan, namun aku memang sengaja membuat blog bukan untuk banyak2an postingan.. tapi lebih sebagai media untuk mengabadikan kesan, pemikiran, dan kenangan yang berarti yang aku alami sepanjang hidupku, walaupun hanya sedikit..
Sepulang dari kantor aku ikut kumpul dg teman2 seangkatan kerja di grand indonesia.. kita makan bareng, bercanda, dan bercerita ttg banyak hal.. seperti kesan mall2 yang pernah aku kunjungi sebelumnya di bandung maupun di jkt, memang terasa kemewahan dan kenyamanan.. walaupun hanya sekedar ilusi panca indra belaka.. Tak terasa 4 jam telah kami lalui..
Sekitar pukul 10.30 malam kami semua pulang.. aku pun turun dan berjalan dari kuningan ke tempat kos.. di tengah langkah sepatu yang kuayunkan, terlihat seorang bapak2 berumur tua (mungkin sekitar 60 tahunan), dengan rambut yang memutih, sedang menuntun sepeda tuanya.. di bagian belakang sepeda terlihat tumpukan kardus bekas.. dengan pakaian kumuhnya sesekali terlihat ia merapikan tumpukan kardusnya yang hampir jatuh.. di bawah sinar lampu jalan yang remang-remang, aku bisa melihat kerutan wajahnya yang tua dan sisa nafasnya yang masih tersengal.. sekilas aku dapat menangkap rasa lelah dan gembira yang terpancar dari wajahnya.. Dalam suasana malam yang mulai sepi, bapak tersebut masih dapat menuntun sepedanya dengan pelan dan lelah.. seakan ia ingin segera menjual hasil kardus bekas yg ia kumpulkan untuk mendapatkan sesuap nasi..
Sejenak aku teringat akan suasana kemewahan mall yang baru aku rasakan.. terasa aneh.. dan janggal..
Tak terasa aku mulai berpisah dengan bapak tadi.. aku bingung dan menyesal karena tidak dapat membantu banyak.. dalam hati aku hanya bisa berkata “seandainya aku bisa membantunya memberi nafkah dan rumah..dan bertemu dengannya lagi kelak “
Kita semakin berjauhan.. dalam jarak 50 meter, aku kembali menoleh ke belakang.. dalam suasana gelap dan samar-samar, masih terlihat bapak tersebut sedang berhenti di perempatan jalan dan menoleh2 hendak menyeberang jalan dengan memegang erat sepeda tuanya.. Masih terpancar rasa lelah pada langkahnya.. lalu lalang kendaraan seakan tak menghiraukan keberadaannya.. semakin lama pandanganku semakin remang hingga akhirnya bapak tersebut tidak terlihat lagi..
Aku teruskan langkahku.. sembari terlintas dalam benak, bahwa kita sering kali kurang bersyukur atas keadaan yg kita alami.. sering kali kita terhipnotis oleh rutinitas untuk mencari kesenangan dan mengejar tujuan kehidupan kita masing-masing.. tanpa sadar akan nilai dan esensi dalam kehidupan itu sendiri..
Anas 23/03/2011
Filed under: Lain-Lain
Akhir2 ini mulai sering terdengar kampanye kuliah murah di ITB, terutama di facebook. Tujuannya sepertinya agar para adik2 yang di pelosok tidak takut masuk ITB gara2 masalah biaya. Nah, untuk itu saya ingin coba membantu dengan cara menceritakan pengalaman saya selama kuliah di ITB terutama terkait dengan biaya. Semoga banyak adik2 yang membaca..
Saya masuk ITB tahun 2006. Saya berasal dari keluarga yang kurang mampu (baca: mizkin, hehe).. Tapi saya tidak peduli dengan hal itu, tetap saja saya nekat daftar Teknik Industri ITB lewat jalur SPMB. Waktu itu kita langsung milih jurusan, tidak milih fakultas seperti sekarang. Saya sadar orang tua saya tidak akan mampu membayar kuliah saya. Jangankan biaya kuliah, biaya transport dari Jember ke Bandung saja saya belum tau ada atau nggak. Tapi prinsip saya, kalo kita punya kemampuan, pasti ITB bisa memfasilitasi dan membantu.. saya percaya ITB nggak akan melepas calon mahasiswanya hanya gara-gara biaya.. yang penting kita belajar dan berusaha semaksimal mungkin dulu.
Alhamdulillah saya diterima di TI ITB, dan orang tua langsung sibuk cari pinjaman.. Walaupun saya sudah berkata ke orang tua kalo saya ingin tetap berangkat dengan membawa surat2 keterangan tidak mampu dari kelurahan, kartu keluarga dll.. Namun ternyata Ayah dapat bantuan dana dari orang lain untuk membayar transport dan SPP. Waktu itu saya memilih membayar uang gedung sebesar Rp 0,-, jadi saya hanya membayar uang SPP semester pertama Rp 2 jt, walaupun sebenarnya biaya SPP tsb dapat dibebaskan asalkan membawa surat2 kelurahan dll.
Nah, pas kuliah di ITB hingga lulus saya benar-benar tidak membayar SPP sama sekali karena banyak beasiswa yang saya peroleh.
Ketika tingkat pertama saya dapat beasiswa internal dari ITB, Ikatan Orang Tua Mahasiswa (IOM), dan LWZ Salman meliputi SPP dan biaya hidup. Di tingkat kedua hingga ke empat saya dapat beasiswa General Electric (GE Foundation) meliputi SPP, biaya hidup, training, dan biaya penelitian tugas akhir. Jadi alhamdulillah SPP dan biaya hidup saya selama di ITB 100% dibiayai oleh beasiswa, dan tidak pernah melibatkan kiriman dari orang tua. Teman-teman saya yang lain juga banyak yang mendapat beasiswa dari berbagai sponsor/perusahaan. Adik saya pun saat ini juga sedang kuliah di Fisika ITB dan dapat beasiswa IOM, PPA, dan KSE meliputi SPP dan biaya hidup. Saya juga bersyukur karena mendapat banyak bantuan dari orang lain yang menjadi orang tua kedua saya di Bandung. Ketika mendapat beasiswa di tingkat pertama, saya bertekad ingin lulus dengan IPK 3,6 dan aktif di sebuah organisasi. Alhamdulillah keinginan tersebut menjadi kenyataan dan saya sempat menjadi pengurus inti Kokesma ITB dan asisten laboratorium, sebuah pengalaman yg berharga. Namun saya lebih salut lagi pada teman-teman saya yang memperoleh penghasilan sendiri dengan cara berbisnis ketika masih kuliah. Menurut saya mereka lebih hebat daripada saya.
Intinya, jangan takut untuk kuliah di ITB, apalagi kalo hanya masalah biaya. Banyak sekali bantuan dan solusi yang bisa didapatkan untuk mengatasi masalah biaya. Apalagi di bandung saya memiliki komunitas anak-anak jember di bandung yang bisa membantu saya kapanpun. Yang penting kalo udah dapat beasiswa ya harus tanggung jawab. Caranya ya harus kuliah sungguh-sungguh, jangan pernah males beraktivitas. Kalo sudah lulus pun tetep harus bekerja dan berprofesi dengan sungguh-sungguh supaya beasiswanya jadi bermanfaat. Dan jangan lupa selalu bersyukur. Semoga sukses !! Amin
Filed under: Lain-Lain
Sudah lama sekali rasanya tidak menulis.. aku copy paste sebuah catatan kecilku beberapa bulan lalu yang belum sempat di post..
Banyak orang bilang masa lalu itu tidaklah penting. Sebaliknya, masa depan jauh lebih penting.. Bagiku, tidak salah dan tidak juga benar.. Begini alasannya.
Satu bulan ini aku disibukkan dengan urusan mencari pekerjaan, proyek, dll.. (termasuk kora-kora). Pada beberapa moment, Sebagai manusia yang baru lulus sarjana, banyak sekali keinginan2 yang ingin segera aku wujudkan.. ibarat seekor burung yang baru dilepas dari sangkar.. aku merasa bebas menjadi apapun yang ku mau.. terkadang terasa sekali kelelahan dan kekhawatiran yang mendalam.. Dalam sepenggal waktu istirahat, kadang aku terbawa lamunan masa lalu.. Entah mengapa aku sering sekali mengingat masa lalu sebagai sarana refreshing.. Masa-masa kekanakan, masa bermain, hingga sekarang.. Dalam ingatan itu, selalu terasa ada energi yang mengalir dari masa lalu ke masa sekarang.. Teringat akan kelucuan, kesusahan, kesenangan, dan perjuangan hidupku di masa lalu.. Semua itu membuatku sadar akan dimana posisiku saat ini.. sadar akan seberapa jauh aku telah melangkah.. dan seberapa curam jalan yang telah dilalui.. Semua itu memberiku energi untuk terus melangkah..
Ketika mengingat masa lalu, aku sering merasa bahwa nilai hidup yang aku bawa saat ini telah jauh terpengaruh lingkungan dan menyimpang dari apa yang aku percayai sebelumnya.. Dan itu membuatku sadar untuk kembali pada nilai yang paling aku percayai..
Kesimpulannya, berjuanglah untuk masa depan.. namun jangan sampai melupakan nilai sejarah.. Karena ibarat seorang pengelana, masa lalu adalah rangkaian jejak langkah dan jatuh yang telah dialami.. yang terus menyadarkan sang pengelana ke mana arah yang seharusnya dituju.. dimana posisi dia saat ini.. seberapa berat rintangan yang telah terlewati.. yang pada akhirnya menyadarkannya untuk terus berjalan, apapun kondisinya, karena perjuangan yang telah dilalui terlalu mahal tuk disia-siakan begitu saja..
Anas (02122010)
Petang hari di atas Argo Parahyangan
Filed under: My Life Learning
Siang ini aku ke kampus untuk legalisir ijazah.. Tak disangka, ternyata aku masih dapat bertemu beberapa teman. Seber, agam, mechen, yozzi, dan laras (+ pak boni).. Di siang itu aku dan agam sempat bercengkrama dan saling bertanya masalah karir dan kerja.. Ada beberapa pelajaran yang bisa di petik dalam sekitar setengah jam momen di siang itu..
Mempertahankan idealisme itu tidak semudah membalik telapak tangan.. karena kondisi dan lingkungan yang kita hadapi jauh tidak ideal dibandingkan dengan idealisme kita itu sendiri.. kondisi Indonesia ini memang serba dilematis.. Bayangkan saja, 1200 lulusan ITB harus kesana-kemari hanya untuk “mengemis pekerjaan”.. Lebih parah lagi, 90 % lulusan berpredikat cum laude pasti mencari kerja di perusahaan asing yang memang dikenal bergaji tinggi.. Ironis, karena seorang nenek yang dulunya hanya berijazah SD saja bisa bekerja sendiri walaupun hanya dengan modal sebuah gerobak.. Apakah kita masih berani mengklaim sebagai lulusan sarjana terbaik?
Tidak salah memang.. namun juga tidak benar..
Tidak salah, sebab teori hierarki motivasi seperti yang aku pelajari di mata kuliah psikologi industri juga mengatakan bahwa setiap orang tidak akan berusaha memenuhi kebutuhan di level atas, jika kebutuhan dasarnya belum terpenuhi.. Mustahil bagi orang untuk menjadi pahlawan bangsa jika kebutuhan makan untuk hari esok pun masih belum pasti dapat dari mana..
Tidak benar, karena jika kondisi ini dibiarkan terus, lalu siapa yang akan membangun negara? apakah institusi negara hanya mendapat jatah pekerja sisa yang sudah terbuang dari bursa pengemis kerja? Masih teringat di otakku cuplikan janji sarjana yang kuucap saat wisuda.. “kami berjanji.. Akan mengabdikan ilmu pengetahuan bagi kesejahteraan bangsa Indonesia, perikemanusiaan, dan perdamaian dunia”
Aku sadari, kehidupan kuliah di ITB yang kompetitif memiliki dampak negatif, yaitu secara tidak langsung membentuk mental duniawi.. kebanyakan lulusan selalu mengukur kesuksesan dengan parameter kekayaan..
Aku tidak ingin memihak siapapun, karena saat ini aku sendiri pun juga sdg sibuk mencari kerja.. dan aku tidak mau menyimpulkan apa pun.. Namun aku hanya ingin berpesan pada siapapun yang membaca tulisan ini bahwa memenuhi kebutuhan materiil itu memang penting.. tetapi kebutuhan akan dunia tidak akan pernah ada ujung, karena kita akan terus merasa kurang.. Kerasnya dunia jangan sampai membuat kita menjadi orang yang serakah dan individualis..
Carilah dunia.. Namun ketika hidup kita sudah mapan kelak, cobalah bertanya pada hati nurani walau sekali: “sampai kapan kau akan mengejar dunia?” Bukankah rizki dan akal itu adalah pemberian Tuhan.. Tidakkah kita malu pada Tuhan jika rizki dan akal itu tidak kita bagi dan amalkan? Butuh kesadaran nurani, keberanian, dan keikhlasan yang mengakar untuk menjalani hidup yang sederhana ditengah gelimangnya harta yang kita miliki.. itulah sebabnya ada pepatah asing yang mengatakan “simplicity is the ultimate sophistication“. Kesederhanaan adalah kecanggihan yang tertinggi.. Aku teringat akan cuplikan doa pada saat acara wisuda.. ” Letakkanlah dunia di genggaman tanganmu, namun jangan kau letakkan di hatimu “
Untuk teman2 kuliah, selamat berjuang, selamat menggapai mimpi2 kita, selamat memperjuangkan apa yang kita anggap benar.. life isn’t about finding yourself, it’s about creating yourself ! Enjoy your adventure.. you decide the destination dan the path, and God decide the result..
selamat berpisah..
kenangan indah memang terlalu pahit tuk dilepas begitu saja..
namun masa depan jauh lebih pahit tuk disia-siakan..
sampai bertemu lagi……….
Anas/261010
(di suatu tempat)


