Anas Teguh S.


Kenangan di Jatirogo
April 8, 2016, 3:29 am
Filed under: Uncategorized

Hari minggu kemarin aku pertama kali ke Jatirogo. Sebuah kecamatan di selatan kabupaten Tuban. Aku berangkat dari terminal Surabaya naik bis & turun di pertigaan Jl Bulu. Sekitar 4 jam akhirnya aku sampai ke tempat yg dimaksud. Dari situ aku lanjut naik angkot. Sebelum berangkat, pak sopir menunggu tambahan penumpang lain sekitar 15 menit namun blm ada tambahan. Akhirnya sopir angkot itu memutuskan utk berangkat.. Alhamdulillah di tengah perjalanan ada 4-5 org ibu2 petani yg ikut naik. Suasana sore itu sangat asri & segar. Di kanan kiri jalan masih hijau dg deretan sawah dan pohon. Sesekali terlihat rumah2 penduduk & org bersepeda.

photo_2016-04-07_17-39-19

Sekitar 30 menit kemudian kami sdh sampai di pusat Jatirogo.. Aku turun di perempatan lampu merah Jl Raya Timur & Barat. Ternyata Jatirogo itu tidak sebesar yg aku bayangkan, 15 menit keliling aku msh blm menemukan penginapan. Saat itu waktu sdh menjelang magrib. Setelah bertanya ke seseorang akhirnya aku menginap di Pertiwi di depan pasar Jl Sadang namanya.. Esoknya aku pindah ke penginapan Asri yg lokasinya yg lebih dekat. Setiap malam aku selalu berjalan kaki mencari makan sambil menikmati jalanan di Jatirogo.

photo_2016-04-07_17-39-52
Waktu yang ditunggu-tunggu pun datang. Aku bertemu dg seseorang, sebut saja namanya Tia.. Orgnya ramah & cantik namun tetap sederhana.. Senyumnya manis. 2 hari kami bertemu. Malam itu tak terasa sdh 1,5 jam kami saling bercerita & kami harus pulang krn warungnya sudah mau tutup hehe.. Esok paginya aku bergegas pulang. Tia mengantarkan aku sd terminal & kami pun berpisah..

photo_2016-04-07_17-39-14

4 hari di jatirogo rasanya begitu cepat. Mungkin kelak aku akan sering mengunjungi tempat ini. Aku suka dengan tempatnya. Suasananya, lingkungannya, dan kehidupannya masih natural dan asri.. seperti Tia..

Balikpapan, 8 April 2016

Advertisements


Napak Tilas Bandung
February 17, 2013, 5:34 pm
Filed under: Uncategorized

Ada hal baru yg aku rasa perlu aku tulis sebagai kenang2an kelak. Seminggu kemarin aku ada tugas kantor ke Bandung sekalian menghabiskan jatah cuti tahunan yang masih banyak. Dari awal berangkat aku memang sudah berniat untuk jalan2 dan napak tilas masa kuliah dulu.

Setiap kali ke Bandung, aku selalu numpang menginap di kos-kosan sahabat kuliahku  di Jl. Dipatiukur, namanya Andri alias Bullah. Banyak alasan kenapa aku selalu menyempatkan diri untuk menginap di sana. Selain karena gratis, setiap kali memasuki kamar kos nya aku selalu teringat masa kuliah dulu. Semasa kuliah kita tidur sekamar. Hingga kemarin aku ke sana, kondisi kamarnya nyaris tidak berubah dibanding dulu saat masih kuliah (malah tambah berantakan..hehe). Masih tergeletak buku-buku, catatan, kartu studi (KSM), transkip, berkas2 pendaftaran beasiswa rutin (lengkap dg stempel RT, RW, & kelurahan palsu nya..wkwkwk), soal2 UTS, meja komputer, printer, dan kaos2 oblong jaman kuliah dulu. Semua itu semakin mengundang ingatanku. Kasur & spreinya pun masih sama. Baunya masih sama2 apek karena spreinya baru dicuci kalo udh kerasa gatel2 di badan..hahaha. Belum lagi setiap bangun tidur terdengar bunyi mesin bangunan di Unikom.. Bunyi yang dulu selalu membangunkanku dan menjadi tanda bahwa hari sudah siang..hehe..

Kamar Kosku

Mantan Kamar Kosku

Gasibu

Gasibu Bandung

Selain kamar kos, aku juga sempat pergi ke gasibu.. semacam pasar kaget yg buka setiap minggu pagi & selalu bikin macet. Tempat dulu nyari baju bekas, kaos kaki dan celana dalam murah (Rp 10 rb dapet 4, apalagi kalo ditawar..hehehe). Tak hanya di situ, aku juga pergi ke kampus.. Sekalian mengajari orang yg melanjutkan skripsiku sebagai tesisnya.. Terpaksa aku pelajari lagi skripsiku.. Serasa balik lagi ke jaman kuliah dulu.. Lalu aku main ke Tokema (toko swalayan di dalam kampus). Disana ketemu lagi dg karyawan2. Dulu setiap kali ada waktu luang di kampus aku selalu numpang istirahat di sana sekalian nyari bonus roti gratisan buat sarapan..hehehe.. Pulangnya aku numpang fitnes di sabuga dan beli es cendol juanda di dago (es cendol paling enak se-dunia..hahaha).. Hanya ada satu keinginan yg belum tercapai, yaitu makan bubur ayam di belakang kos2an gara2 bangunnya siang terus..hahaha..

Tapi, tugas dinas ke Bandung selalu spesial buatku terlebih bisa ketemu Mas, Adik2ku, dan sahabat kuliah ku, si Bullah..

Balikpapan, 17 Februari 2013

Anas



Tentang Perasaan
October 8, 2012, 2:45 pm
Filed under: Uncategorized

Jika anda berpikir ini adalah tulisan yg romantis, maka anda salah besar..hehehe..

Jaman dulu orang bertanya-tanya, kenapa ada siang dan malam, kenapa bulan bisa bersinar, kenapa ada angin, kenapa manusia bisa hidup dan berkembang biak, kenapa kita bisa sakit, dll.. Pertanyaan itu selalu terjawab secara ilmiah seiring dengan perkembangan ilmu eksak. Hingga proses orang bermimpi, mengingat, dan berpikir pun sudah bisa dijelaskan secara ilmiah melalui mekanisme kerja sel syaraf otak (neuron).

Namun, pernahkan kau bertanya: kenapa ada rasa senang, sedih, cemburu, angkuh, cinta, marah, cemas, haru, malu, dll? Adakah teori eksak yang bisa menjelaskan proses terjadinya perasaan-perasaan itu? Sejauh yang aku tau, ilmu eksak hanya bisa menjelaskan proses fisiologis yang terjadi sebelum dan saat orang marah, seperti meningkatnya tekanan darah, produksi hormon, dllJika memang perasaan2 itu bisa dijelaskan secara fisiologis, lalu apa yg membedakan antara rasa senang dan sedih? apakah kadar oksigen dalam darah, atau kadar hormon, atau apa? Ilmu eksak tidak dapat menjelaskan bagaimana dimensi sebuah perasaan itu? Apakah berwujud seperti hati manusia yang letaknya di bawah paru-paru kanan? Atau seperti cahaya / ruh yang kita sendiri tidak bisa memahaminya?

Lebih jauh lagi, kenapa sifat orang bisa berbeda-beda? kenapa perasaan orang bisa berubah-ubah? dimana sumber perasaan itu berada? apakah perasaan itu lahir dari sugesti otak belaka? Aku yakin bahwa dimensi sebuah perasaan sampai detik ini belum bisa dijelaskan dengan ilmu eksak.

Pertanyaan tentang perasaan itu menyadarkan kita bahwa otak manusia dan ilmu eksak itu terbatas.. Dalam beberapa fenomena, kita seakan ‘dipaksa’ mengakui bahwa ada kuasa dan campur tangan Tuhan dalam kehidupan kita..

Anas

Balikpapan, 8 Oktober 2012



Awas, Jebakan Social Media !
September 30, 2012, 3:21 pm
Filed under: Uncategorized

Sekitar 1 bulan yang lalu aku membuat akun twitter. Selain karena penasaran, jujur juga karena minder melihat dimana2 orang2 selalu mencantumkan akun facebook dan twitternya.. hehe.

Setelah sebulan melihat2 twitter dan membaca apa yg orang2 twit, aku merasa ada hal yang aneh di social media, terutama twitter. Di twitter seolah2 orang sudah tidak punya privatisasi. Apa yg ditulis akan dibaca oleh semua orang/followernya. Memang sekarang adalah zaman borderless communication. Tapi tetap ada hal2 yang kita harus paham apa yg bisa dikomunikasikan ke publik dan apa yg tidak.

Selain itu, ada dampak negatif social media yang secara tidak sadar mempengaruhi karakter dan kepribadian kita, misalnya :

1. Hilangnya Esensi Komunikasi

Aku suka ketawa kalo liat status orang seperti “Laper banget nih..”  atau “Aduh, perutku sakit..“. Ini status yg aneh, krn kalo org laper maka solusinya adalah makan. Kalo sakit ya minum obat. Mungkin org tsb berharap update status bisa menghilangkan rasa lapar/sakitnya kali ya.. Ada lagi status aneh kyk “Alhamdulillah ya Allah..” atau “Ya Tuhan lancarkanlah acara besok..“. Ini lebih aneh lagi.. sejak kapan Tuhan punya akun facebook/twitter? kalopun ada, kenapa Tuhan gak di tag atau di mention sekalian biar bisa baca..hehe. Tapi Tuhan kan maha mengetahui, jd mungkin status kyk gt masih bisa dimaklumi lah..hehehe

2. Social Media Mendidik Orang Menjadi Pamrih, Ingin Dipuji, dan Cengeng

Tidak semua yang kita lakukan, kita alami, dan kita rasakan perlu untuk dishare di social media. Walaupun memang ada hal-hal tertentu yang perlu untuk dishare untuk kebutuhan komunikasi dan informasi. Jangan terpancing social media untuk menjadi orang yang cengeng, ingin selalu diperhatikan, pamer, dll.. Sebab tanpa kita sadari itu akan menjadi kebiasaan yang akan melekat pada karakter kita.

Tulisan ini sengaja aku posting bukan untuk melarang / memojokkan orang2 yg hobinya update status..hehehe.. Tapi lebih untuk mengingatkan dan menyadarkan bahwa ada hal2 negatif pada social media yang secara tidak sadar  justru menghilangkan esensi komunikasi itu sendiri, bahkan mempengaruhi pembentukan kepribadian dan karakter penggunanya. Jangan suka terpancing dg banyaknya status tmn, dll.. Sekali lagi mengutip tulisanku sebelumnya tentang “3 Level Kecerdasan“, bahwa kecerdasan esensial itu sangat penting. Orang harus bisa memilah dan menyelami esensi atas apa yg ia lakukan.. That’s the key words of this notes.. !

Anas

Balikpapan, 30 Sept 2012



With Money…
August 31, 2012, 5:04 pm
Filed under: Uncategorized

With Money…

You can buy a house, but not home

You can buy a bed, but not sleep

You can buy a clock, but not time

You can buy a book, but not knowledge

You can buy blood, but not life

You can buy energy, but not spirit

You can buy a woman, but not love

You can buy a position, but not respect

Find the happines inside you..



SENSE OF CRISIS
August 29, 2012, 3:08 pm
Filed under: Uncategorized

Orang yg relatif sukses sebagian besar punya kemiripan latar belakang.. Aku katakan relatif karena pada dasarnya makna sukses setiap orang berbeda-beda. Bill Gates, Steve Jobs, Andri Wongso, Dahlan Iskan merupakan contoh tokoh yg punya kemiripan yaitu berasal dari keluarga miskin dan pendidikan yang tidak terlalu tinggi, bahkan tidak lulus kuliah.. Sepanjang yg aku tau, hanya sedikit orang sukses dalam profesi apapun yg berasal dari keluarga mampu dan pendidikan tinggi.. Banyak pengusaha besar bahkan hanya lulusan SMP/SMA. Kalau pun ada, kesuksesan mereka tidak dimulai dari nol, tapi ada dukungan/warisan dari orang tuanya. Justru banyak orang yg pandai yg hanya bekerja sebagai karyawan / buruh biasa. Fenomena ini sdh lama aku sadari, namun aku baru dapat menyimpulkan secara lebih teoritis.

Pada dasarnya apa yg membuat orang tersebut sukses berawal dari sense of crisis atau pemikiran terpaksa. Orang miskin, apalagi yg tingkat pendidikannya rendah, akan menyadari bahwa kondisinya saat ini dalam kondisi krisis (bahaya).  Apabila tidak melakukan sesuatu, maka hampir dipastikan ia tidak akan mampu bertahan hidup di masa depan. Kesadaran ini kemudian secara tidak sadar memaksanya menemukan solusi untuk mengatasi kemiskinannya. Kesadaran itu pula yg menjadi sumber kerja kerasnya membangun usaha hingga ia sukses kelak. Sedangkan orang yg berkecukupan tidak memiliki pemikiran tersebut karena ia sudah berada di zona aman dan nyaman.

Pertanyaannya, apakah kesadaran (sense of crisis) tersebut hanya bisa muncul ketika kondisi kita terdesak?

Jawabnya adalah tidak. Setiap orang seharusnya bisa men-sugesti dirinya sendiri untuk menimbulkan sense of crisis walaupun dalam kondisi yang nyaman / tidak mendesak. Oleh karena itu seseorang harus terbiasa berpikir terpaksa. Seperti orang yang terpaksa belajar karena terancam DO, terpaksa bekerja karena tidak ada uang untuk makan, dll. Ada orang yang sense of crisisnya rendah dan ada juga yang tinggi. Orang yg sense of crisisnya rendah hanya akan termotivasi bila kondisnya mendesak. Sebaliknya orang yg sense of crisisnya tinggi cenderung selalu termotivasi untuk melakukan yang terbaik.

Menurutku sense of crisis susah untuk diajarkan.. Karena pada dasarnya sense of crisis itu menyangkut kesadaran dan kepekaan seseorang dalam merasakan gap antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal yang seharusnya.

Fenomena tsb memberikan kesimpulan bahwa kepekaan dan kesadaran itu adalah hal terpenting untuk melakukan perubahan.

Mengajari anak matematika itu memang penting.. Tetapi lebih penting adalah mengajari anak tentang bagaimana cara belajar matematika yang benar.. Tapi yang paling penting adalah memberikan kesadaran bahwa belajar matematika itu penting..

Anas, Balikpapan 29/08/2012



Satuan Pahala & Dosa
August 4, 2012, 3:08 pm
Filed under: Uncategorized

Sedikit posting yg bisa dibilang serius, tapi bisa juga tidak.. tergantung selera masing2..hehehe..

kebetulan sekarang bulan puasa.. di TV atau dimanapun semakin banyak ceramah2 dan pesan2 tentang amal2, dosa, pahala, dan sejenisnya.. Ada suatu hal yang cukup menggelitik / mengusik / merangsang rasa penasaran / apalah istilah lainnya.. coba renungkan, seringkali kita mendengar pesan2 sejenis ini:

  • barangsiapa yg mengerjakan amal bla..bla..bla.. maka ia akan mendapat pahala seperti berpuasa sepanjang tahun..
  • membaca huruf Al-Quran x jml ayat x jml surat = pahalanya xxxx (pokoknya banyak lah)
  • barangsiapa yg melakukan amal xxx maka akan dihapuskan segala dosa dan ia akan mendapat pahala seperti yg telah diberikan kepada nabi xxx

mendengar kalimat2 diatas terbayang kalo pahala yg bisa kita dapat bakal banyak sekali.. Tapi ternyata dosa pun juga banyak.. misalnya :

  • sesungguhnya fitnah itu lebih kejam dari membunuh
  • barangsiapa yg ria maka akan terhapus segala amalnya
  • bila makan dari rezeki haram, akan tertolak amalnya selama 40 hari
  • dll

Akhirnya aku bertanya dalam hati: emg satuan dosa dan pahala apa ya??

selama ini orang pasti ingin tahu antara pahala dan dosanya lebih banyak mana.. maka kata “banyak” harus bisa diukur melalui satuan.. misalnya kg.. seandainya setiap perbuatan bisa diukur dg satuan dosa dan pahala mungkin lebih enak kali ya.. misal :

  • berbohong : dosa 1 kg
  • membunuh manusia : dosa 100 kg
  • membunuh kucing tapi ga sengaja : dosa 19,7 kg
  • puasa sehari : pahala 2 kg
  • memberi makan org miskin : pahala 10 kg
  • memberi makan org miskin tp lauknya tahu tempe : pahala 4,78 kg

Kalo gitu kan enak.. org bisa ngitung saldo pahala / dosanya berapa.. kalo perlu ada aplikasi khusus / dashboard online pribadi utk tau posisi saldo saat ini.. hehehe.

Tapi terlepas dari ide ttg satuan dosa / pahala di atas, hal yg paling memprihatinkan adalah ketika orang seakan2 diperbudak oleh kata “pahala” dan “dosa”.. Mereka berbuat baik karena iming2 pahala dan surga.. dan takut dosa dan neraka.. Lalu seandainya pahala dan dosa itu tidak ada, apakah perbuatan baik itu tetap dilaksanakan?..

Berbuat baik itu akan terasa lebih nikmat jika dilakukan secara ikhlas karena nurani dan kesadaran manusia sbg mahluk sosial yg memiliki perasaan dan tanggung jawab.. tidak peduli berapa banyak pahala yg akan didapat.. bahkan jika tidak mendapat pahala sekali pun..

.

Anas / Balikpapan, 4 Agustus 2012




%d bloggers like this: